Home / News / Lima Bisnis yang Akan Kalah Bersaing di Tahun 2016

 
Lima Bisnis yang Akan Kalah Bersaing di Tahun 2016

Setiap kemajuan teknologi yang terjadi akan membawa dampak positif sekaligusdampak negatif secara bersamaan seperti saat ini. Dalam bisnis, beberapa industri yang dianggap tidak mampu menanggapi perubahan zaman diprediksi akan gulung tikar di tahun 2016 ini, cepat atau lambat.

Penyesuaian-penyesuaian di berbagai bidang terus dilakukan agar mampu menanggulangi gelombang besar revolusi digital. Tak bisa dipungkiri bahwa revolusi digital yang dialami saat ini membuat manusia lebih mudah berbagi dan terkoneksi satu sama lain. Arus informasi yang begitu cepat menyebar tersebut membuat segala aktivitas sosial maupun isu-isu terbaru selalu up to date dalam hitungan detik.

Direktur Astragraphia yaitu Arifin Pranoto mengatakan bahwa era digital memiliki tiga esensi yaitu instan, kreatif, dan inovatif. Dari esensi tersebut, muncullah prediksi mengenai 5 bidang bisnis yang bersiap untuk kalah dalam persaingan era digital di tahun 2016 yaitu:

  1. Industri Media Cetak

industri media cetak

Sebuah pesan pendek menyebar begitu cepat di jajaran redaktur dan karyawan Surat Kabar Sinar Harapan pada tanggal 5 November 2015. Pesan itu berisi undangan mengenai masa depan salah satu media cetak yang pernah dibredel di zaman orde baru itu. Ternyata, undangan tersebut dimaksudkan untuk membicarakan masa depan media cetak yang tidak mampu lagi beroperasi mulai tanggal 1 Januari 2016.

Bukan hanya Sinar Harapan saja yang merasakan dampak negatif era digital, pada tahun yang sama tepatnya pada bulan September 2015 surat kabar harian berbahasa Inggris milikLippo Group yaitu The Jakarta Globe resmi menghentikan koran versi cetaknya.

Koran Tempo juga merasakan hal yang sama. PT Tempo Inti Media Tbk terpaksa menghentikan penerbitan edisi koran yang terbit setiap Minggu. Hingga saat ini, Koran Tempo akhir pekan hanya terbit di Hari Sabtu saja. Menurut Daru Priyambodo yang menjabat sebagai pemimpin redaksi Koran Tempo, hal ini dilakukan demi efisiensi ongkos produksi karena Koran Tempo yang terbit di hari Minggu sirkulasinya hanya sampai di angka 60 ribu eksemplar.

Dua koran olahraga yang berada di bawah naungan PT KOMPAS Gramedia juga turut tutup usia yaitu Harian BOLA dan Tabloid Mingguan Soccer. Soccer terlebih dahulu tutup pada tahun 2014 yang lalu walaupun mereka telah berhasil berjuang keras selama 14 tahun masa terbitnya. Sedangkan Harian BOLA hanya berusia 2,5 tahun saja.

Menurut Direktur Eksekutif Serikat Perusahaan Pers Asmono Wikan mengatakan dari data-data ekonomi makro yang didapatkannya bahwa situasi eksternal turut berpengaruh pada melemahnya bisnis media. Menurutnya, perusahaan-perusahaan mulai enggan untuk beriklan di media, ditambah dengan isu kenaikan harga kertas setelah naiknya nilai tukar rupiah atas dollar semenjak kuartal ketiga tahun 2015.

Baca juga: 7 Tren Digital Marketing Tahun 2016 yang Perlu Diketahui

 

  1. Industri Percetakan

industri percetakan

Setali tiga uang dengan industri media massa cetak, industri percetakan juga perlahan-lahan mulai tertekan dengan situasi di era digital. Menurut Direktur Astragraphia Arifin Pranoto, seusai penandatangan kerjasama dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Penerbit dan Percetakan Universitas Sebelas Maret (UNS) Press di Solo untuk menggairahkan industri penerbit dan percetakan, kalangan penerbit harus bisa bekerja sama dengan dunia kampus karena hampir semua kampus perguruan tinggi memiliki unit penerbit dan percetakan sehingga melalui jalinan kerja sama tersebut industri penerbitan diharapkan bisa lebih efisien dan dapat memberikan harga murah.

Tren menunjukkan bahwa masalah mengkaratnya industri percetakan di Indonesia juga masih melibatkan masalah klasik, misalnya buku sebagai salah satu produk industri percetakan. Di negara seperti Amerika Serikat, setidaknya setiap tahun ada 75.000 judul buku yang terbit. Di India judul buku yang terbit setiap tahunnya mencapai 60.000 judul. Tentu masih sangat jauh jika dibandingkan dengan kuantitas di Indonesia yang hanya mencapai 7.000 judul per tahunnya.

Belum lagi, CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo sebagaimana yang dikutip olehKompas.com mengatakan bahwa persoalan minat baca, daya beli masyarakat yang rendah, distribusi yang tidak merata, hingga soal pajak perbukuan yang tidak kunjung mendapatkan solusi seringkali menjadi masalah yang menumpuk bertahun-tahun.

Memang industri cetak masih bisa sedikit bernapas dengan adanya sektor kreatif di bidang percetakan seperti pencetakan packaging (kemasan). Namun jika diamati secara keseluruhan, industri percetakan dianggap masih kurang mampu bersaing.

 

  1. Industri Angkutan Umum

industri transportasi umum uber

“Mungkin hanya orang-orang tua atau old school yang ngotot bahwa dunia digital belum akan menghancurkan bisnis konvensional. Tak perlu menjadi pakar dotcom atau meneliti seberapa besar penurunan pendapatan media cetak untuk mafhum soal ini. (Kutipan dari TEMPO online pada 15 Juni 2015)”

Edisi TEMPO online pada hari itu mencoba membandingkan pertumbuhan dan pendapatan yang didapatkan oleh Uber dan Lyft di negara seperti Amerika Serikat. Terhitung sampai Desember 2014, Uber sudah membuka cabang di 266 kota dan 54 negara di seluruh dunia termasuk di Jakarta, Bandung, dan Denpasar dan  pendapatannya diperkirakan mencapai US$ 10 Milliar di 2015. Sementara itu, Lyft telah tersebar di 70 kota di seluruh dunia dan diyakini mencapai profit sebesar US$ 250 juta di tahun 2015 yang lalu.

Tak hanya taksi di dalam negeri seperti Blue Bird dan Ekspress yang mulai menjerit, gejala yang sama juga dialami di negara seperti Amerika Serikat. Sopir Uber di New York bisa meraih penghasilan rata-rata sebesar US$ 63.128, sedangkan supir taksi konvensional di New York rata-rata mengantongi pendapatan hanya US$ 31.553.

Di Indonesia, gejala Uber semakin menular di masyarakat ketika perusahaan ini menyediakan layanan antar jemput dengan mobil Avanza UberBlack dan Toyota Innova. “Setelah diluncurkannya dua layanan baru tersebut, banyak masyarakat yang kemudian menggunakan jasa Uber karena dianggap lebih murah 35% dibandingkan dengan taksi biasa,” ujar General Manager Uber Asia Tenggara Mike Brown. Terobosan baru dalam dunia transportasi ini memang memberikan manfaat bagi masyarakat. Namun jika tak ingin kehilangan pelanggan, industri angkutan umum harus bisa meningkatkan pelayanan serta fasilitasnya.

Baca juga: 5 Cara agar Konsumen Tertarik Membeli Produk Anda

 

  1. Industri Musik

industri musik

Tak hanya di sektor media massa, penerbitan, dan angkutan umum saja yang mengalami penurunan pendapatan secara drastis, industri musik juga semakin kekurangan gairahnya. Banyak faktor yang membuat industri musik di Indonesia semakin kehilangan gaungnya karena beberapa hal seperti faktor pembajakan, kemunculan MP3, sharing file yang begitu mudah, kemunculan YouTube, hingga biaya promosi yang mahal.

Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa era digital juga turut membuat musisi kesulitan mendapatkan pendapatan yang lebih besar ketimbang di era sebelumnya. Dulu para pecinta musik atau pecinta group band atau penyanyi solo biasanya selalu membeli karya idolanya dengan cara membeli album. Setelah MP3 muncul, lagu-lagu yang diciptakan oleh musisi semakin mudah untuk dibajak dengan cara di-burn ke CD atau DVD.

Dengan pesatnya perkembangan dunia maya, situs sharing file seperti 4shared juga turut mengambil peran untuk mematikan penghasilan musisi. Belum lagi situs seperti YouTubeyang bisa membuat seseorang menonton video klip musisi idamannya dengan biaya yang murah tanpa harus datang ke konsernya. Jika para pelaku industri musik tidak mampu melakukan inovasi demi kelangsungan industri musik kedepannya, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun kedepan kita akan semakin banyak melihat musisi yang berpindah profesi.

 

  1. Industri Game Console

industri game console

Ketika pertama kali muncul di awal era 1990-an, video game seperti Nintendo menjadi sebuah fenomena besar di dunia hiburan anak. Tak lama kemudian, PlayStation generasi pertama menyusul kehadiran Nintendo menjelang akhir 1990-an. Hal ini membuat semakin banyak anak-anak di seluruh dunia yang kecanduan bermain game console di rumahnya.

Seiring dengan perkembangan zaman, dunia game pun mengalami perubahan yang cukup signifikan. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya jumlah orang yang lebih memilih untuk bermain game online daripada bermain game console sejak 2008. Ada dua alasan sederhana yang melandasi hal ini, yaitu pertama, game console tidak menyediakan layanan berjejaring sambil bermain game dan kedua, game online memberikan kesempatan kepada user untuk bisa bertransaksi layaknya seorang pebisnis.

Kedua alasan sederhana ini membuat industri game console kehilangan akal. Jika ditinjau dari sisi yang lebih teknis lagi, game console sebenarnya tidak memberikan kenyamanan visual sebaik Personal Computer yang kebanyakan digunakan user untuk bermain game online.

 Personal Computer berlevel High End terbukti lebih unggul dalam sisi tampilan grafis dibandingkan PlayStation 4 sekalipun. Jika industri game console seperti PlayStation, X-Box, dan Nintendo tidak bisa bersaing, kemungkinan besar produk-produk mereka semakin lama akan semakin ditinggalkan. (leo/editor: erlin)

Sumber: Indotrading